Serial Netflix Melo Movie: How to Deal with the Past

Hai!

Aku baru saja menamatkan drama Korea besutan Netflix yang berjudul Melo Movie beberapa waktu lalu, dan aku ingin berbagi isi kepalaku kepada kalian malam ini.

Instagram/netflixkcontent

Melo Movie – Drama yang Menguras Emosi

Melo Movie tayang perdana di Netflix pada 14 Februari 2025, disutradarai oleh Oh Chung Hwan dan ditulis oleh Lee Na Eun. Drama ini menampilkan Choi Woo Shik sebagai Ko Gyeom dan Park Bo Young sebagai Kim Mu Bee—dua pemeran utama yang sangat familiar bagi para pecinta drama Korea (termasuk aku, hehe!).

Sinopsis

Cerita dimulai dengan memperkenalkan Ko Gyeom, seorang pencinta film yang memiliki keinginan untuk menonton setiap film yang pernah dibuat. Di sisi lain, ada Kim Mu Bee yang memiliki hubungan rumit dengan dunia perfilman karena masa lalunya. Mereka bertemu dalam sebuah proyek film, dan Gyeom yang merasa nama Mu Bee unik (karena pengucapan movie dalam bahasa Korea adalah Mu-bee) akhirnya merasa tertarik. Mereka pun mulai dekat. Namun, sebuah insiden membuat mereka terpisah. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali ketika Gyeom secara tidak sengaja pindah ke rumah di seberang tempat tinggal Mu Bee. Pertemuan ini membuka kembali luka lama dan perasaan yang belum terselesaikan.

Kesanku terhadap Drama Ini

Awalnya, aku mengira drama ini bergenre komedi romantis dengan trope enemies to lovers, tetapi ternyata ini adalah melodrama yang menekankan emosi yang kuat, konflik dramatis, dan cerita penuh perasaan. Meski begitu, ada juga kisah romansa ringan dan realistis (terutama kisah pasangan kedua yang sangat menggemaskan T_T).

Tema utama yang disorot dalam drama ini adalah bagaimana seseorang menggapai mimpi, membangun hubungan dengan keluarga dan pasangan, serta menghadapi kehilangan dan proses mengikhlaskannya. Meskipun tema ini cukup sering digunakan dalam drama Korea, aku tetap berani merekomendasikan Melo Movie karena penyajiannya yang menarik dan mendalam.

Alur ceritanya memang cenderung lambat, tetapi aku menyarankan untuk tetap bertahan hingga episode ketiga. Meskipun mungkin terasa membosankan di awal, semakin lama masalah yang dihadirkan semakin kompleks dan menarik. Drama ini memberikan pandangan realistis yang mungkin kita alami di dunia nyata.


Chit-Chat tentang Cerita dan Tokoh

Hubungan Ko Gyeom dan Ko Jun

Ditinggal orang tua di usia muda membuat Ko Jun harus mengambil peran sebagai kepala keluarga saat berumur 20 tahun. Ia bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan Gyeom dengan penuh pengorbanan dan kasih sayang, bahkan sampai mengesampingkan keinginannya sendiri demi adiknya.

Kedekatan mereka semakin kuat karena hanya tinggal berdua, ditambah dengan kebiasaan mereka menonton film bersama, yang menjadi momen untuk saling memahami dan berbagi perasaan, serta menjadi pelarian Jun dari realitas hidup yang sulit.

Namun, suatu hari Jun mengalami kecelakaan dan didiagnosis menderita demensia. Hidup mereka pun berbalik—Gyeom mengambil peran sebagai pengasuh, merawat Jun tanpa keberatan. Hingga akhirnya, Jun meninggal akibat penyakitnya. Peristiwa ini menjadi titik balik emosional bagi Gyeom. Episode selanjutnya menggambarkan perjalanan Gyeom dalam menghadapi kehilangan dan proses berduka, menyoroti betapa mendalamnya pengaruh Jun dalam hidupnya.

Hubungan Dewasa antara Gyeom dan Mu Bee

Hubungan mereka diawali dengan momen unik dan berkembang melalui berbagai fase yang mencerminkan kompleksitas emosi serta perkembangan diri masing-masing. Kalian bisa melihat sendiri bagaimana perjalanan hubungan mereka dari awal pertemuan, perpisahan, hingga akhirnya terpaksa berinteraksi lagi karena kebetulan bertetangga, sampai akhirnya menjadi pasangan.

Hal yang ingin aku soroti adalah bagaimana hubungan mereka setelah berpacaran, yang menurutku adalah hubungan dewasa yang sehat. Mereka saling memahami dan saling menguatkan. Baik Gyeom maupun Mu Bee memiliki pengalaman pahit akibat kehilangan orang yang mereka cintai, tetapi mereka bisa menghadapi masalah masing-masing dengan tetap saling mendukung.

Mereka terbuka tentang rahasia terdalam dan trauma pribadi, mendukung impian satu sama lain, dan membangun hubungan yang kuat berdasarkan rasa percaya serta dukungan emosional. Salah satu momen favoritku adalah ketika Mu Bee tidak memaksa Gyeom untuk bercerita atau terus bertanya tentang perasaannya, tetapi cukup memberikan pelukan, perhatian, dan menunggu sampai Gyeom sendiri yang memutuskan untuk berbicara. Sederhana, tetapi menurutku ini adalah bentuk hubungan yang sehat dan penuh pengertian—sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh orang dewasa.


Dua topik di atas adalah pembahasan utamaku dalam ulasan Melo Movie, meskipun sebenarnya masih banyak hal lain yang bisa digali lebih dalam. Misalnya, bagaimana komunikasi yang buruk dapat menyebabkan putusnya hubungan Hong Sijun dan Son Jua, hubungan Mu Bee dengan ibunya, serta perasaan Mu Bee terhadap ayahnya yang ia anggap lebih mementingkan impiannya sendiri. Selain itu, drama ini juga menunjukkan bagaimana mimpi dan passion dapat menuntun seseorang menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.

Untuk hubungan Hong Sijun dan Son Jua, aku akan membahasnya dalam tulisan terpisah karena ada banyak sekali hal menarik yang ingin aku ulas.

Aku sangat menyarankan kalian untuk menonton drama ini sampai selesai, karena cukup worth it untuk mengisi waktu luang. Jangan lupa siapkan tisu, karena beberapa episode benar-benar mengandung bawang, hahaha.

Itulah review yang bisa aku berikan untuk Melo Movie. Jika kalian punya pendapat yang sama atau berbeda, jangan ragu untuk berbagi di kolom komentar.

Sampai jumpa di tulisanku yang lain! 👋

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Andai saja aku tidak melakukannya – Bab dari Buku Positive Approach

Review Buku As Long as The Lemon Trees Grow Karya Zoulga Katouh: Ketika Perang Merebut Segalanya, Kecuali Harapan

Review Buku Kesetiaan Mr.X: Pertarungan Dua Jenius dalam Novel Misteri Karya Keigo Higashino